Kurangi Ketergantungan Impor, Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia Siap Wujudkan Kemandirian Obat-obatan

kemandirian obat-obatan.jpg


Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) terus memperkuat komitmen pelaku industri kesehatan dan farmasi untuk mewujudkan kemandirian kesehatan nasional dengan menjamin ketersediaan obat dan vitamin di 34 provinsi seluruh Indonesia.

"Dengan melibatkan 160 pabrik farmasi yang memproduksi kurang lebih 2.000 jenis zat obat dan kekuatan saluran distribusi anggotanya, GP Farmasi optimistis dapat berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan obat-obatan impor," tegas Ketua Umum GP Farmasi Tirto Kusnadi dalam keterangan tertulisnya, Senin, 28 Maret 2022.

Tirto menyatakan GP Farmasi bersama dengan kementerian dan lembaga terkait juga telah memperkuat komitmen kerja sama strategis dalam upaya memenuhi kebutuhan obat-obatan dalam negeri. Menurutnya, dukungan dari kementerian dan lembaga menjadi hal yang sangat penting untuk terus diupayakan ke depan.

Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan akan memberikan fasilitas nonfiskal berupa pembiayaan uji klinik untuk industri farmasi inovator.

"Tidak hanya itu, GP Farmasi juga akan meningkatkan kemitraan strategis dengan akademisi, industri yang dapat memperkuat industri farmasi dari segi riset, bahan baku, sampai formulasi," tuturnya.

Merujuk data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), di Indonesia saat ini terdapat empat perusahaan farmasi milik negara (BUMN), 199 perusahaan farmasi swasta, dan 24 perusahaan farmasi multinasional industri farmasi nasional yang saat ini telah menguasai 89 persen suplai obat di dalam negeri.

Ia menekankan bahwa inovasi dan investasi yang telah dilakukan oleh pelaku industri farmasi menjadi fondasi fundamental untuk membangun ekosistem kemandirian kesehatan yang sejalan dengan inisiatif Indonesia yang diusung dalam KTT G20 di Bali akhir tahun ini.

Tirto juga menyampaikan, pertumbuhan industri pada 2021 mencapai sebesar 10,81 persen dengan nilai transaksi mencapai hingga Rp95 triliun, dalam hal penjualan dan distribusi produk farmasi.

"Namun, kami juga melihat potensi yang masih besar mengingat pengeluaran per kapita penduduk Indonesia untuk produk-produk farmasi masih lebih rendah dibanding negara lain di Asia Tenggara dan negara peer (berkembang) lainnya," urai dia.

"Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kesehatan pascapandemi, Tirto berharap momentum tersebut dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan industri farmasi nasional," tutup Tirto.

sumber: https://www.medcom.id/ekonomi/bisni...farmasi-siap-wujudkan-kemandirian-obat-obatan



Industri Farmasi Nasional Tumbuh 10 % Saat Pandemi Covid-19​


Industri farmasi nasional tercatat tumbuh signifikan selama masa pandemi Covid-19. Pada tahun 2021 tercatat industri farmasi tumbuh hingga 10 persen.

Di tengah tengah kegiatan Munas GP Farmasi, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, Tirto Kusnadi menyebut, pertumbuhan 10,18 persen ini memperhatikan indikator penjualan yang totalnya kurang lebih 90 triliun hingga 95 triliun.

Kondisi ini diyakini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. Ia menambahkan, industri farmasi Indonesia masih mengalami tantangan terkait bahan baku obat-obatan, yang masih harus impor dari luar negeri.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Lucia Rizka Andalusia mengatakan, di Indonesia memang sudah ada lebih dari 200 perusahaan yang bergerak di industri farmasi tapi bergerak di sektor pembuatan obat atau formulasi, namun bahan bakunya 90 persen masih impor.

Untuk mewujudkan ketahanan farmasi, Indonesia harus mengembangkan industri bahan baku obat, paling tidak untuk memenuhi 10 molekul yang paling banyak digunakan di Indonesia, sehingga pada masa pandemi tidak mengalami masalah yang sama.

sumber: https://www.kompas.tv/article/274460/industri-farmasi-nasional-tumbuh-10-saat-pandemi-covid-19



Peran Penting Industri Farmasi untuk Ketahanan Kesehatan: Sediakan Obat Aman dan Berkhasiat​


Industri farmasi memegang peranan penting dalam aspek ketahanan kesehatan Indonesia. Apa fungsinya?

Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia Apt. M.Pharm. MARS mengatakan ketahanan kesehatan bisa diterjemahkan sebagai kemandirian kemandirian bangsa di bidang farmasi sangat penting.

Hal ini menurutnya bisa dilakukan industri farmasi dengan meningkatkan produksi obat dalam negeri sehingga tidak lagi bergantung impor.

"Kita pasti akan mendukung penuh semangat GPFI dalam menjaga ketahanan kesehatan bangsa ini," katanya dalam keterangan yang diterima Suara.com.

Tentunya hal itu tidak bisa dikerjakan oleh industri farmasi saja. Harus ada ekosistem yang disebut Pentahelix mulai akademisi, industri dan pemerintah. Ekosistem ini nantinya akan bekerja mulai dari riset, bahan baku sampai formulasi berupa produk obat.

Untuk mendukung itu, Kementerian Kesehatan akan memberikan fasilitas non fiskal berupa pembiayaan uji klinik untuk industri farmasi inovator. "Seperti vaksin merah putih saat ini, kita biayai," paparnya.

Dia berharap GPFI terlibat dalam produksi vaksin imunisasi dasar lengkap. "Kita berharap 14 vaksin imunisasi dasar lengkap ini diproduksi di Indonesia dengan teknologi yang terdepan," pintanya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Dra. Roro Mayagustina Andarini, pembicara lainnya mengapresiasi kiprah GPFI dalam memproduksi obat yang bermutu, aman dan berkhasiat.

"BPOM melakukan pengawasan dari awal mulai ketika produk disiapkan, pengawasan sampai produk itu diregistrasi. Khusus produk obat, kita sangat ketat melakukan pengawasan," tandas Maya.

Ia menyampaikan, BPOM melakukan pendampingan dari awal terutama kepada peniliti. Sehingga pada awal ketika akan dilakukan penelitian sudah dapat berkomunikasi.

Dukungan BPOM juga ditunjukkan dengan pemberian relaksasi kepada industri farmasi yang mengajukan uji klinik.

"Contohnya untuk pra registrasi dari 40 hari menjadi 6 jam," terang Maya.

sumber: https://www.suara.com/health/2022/0...n-kesehatan-sediakan-obat-aman-dan-berkhasiat
 
Top